IMPLEMENTASI SENSOR MQ 4 DAN SENSOR DHT 22 PADA SISTEM KOMPOS PINTAR BERBASIS IOT (SIKOMPI)

  • Kevin Diantoro Universitas Singaperbangsa Karawang

Abstract

Intisari — Pada proses pengomposan, suhu dan kelembaban harus stabil, tidak boleh terlalu kering atau terlalu lembab agar bakteri dan mikroba pada proses penguraian tidak mati dan dapat bekerja secara optimal. Pada proses pengomposan berlangsung, terjadi pembusukan bahan-bahan yang digunakan yang menghasilkan gas metana. Kadar gas metana yang tinggi berbahaya jika terhirup oleh manusia dan dapat menyebabkan kerusakan pada ozon sehingga menyebabkan efek rumah kaca. Maka dari itu dibuatlah sistem monitoring pada alat pembuatan kompos dengan sistem Internet of Things (IoT) agar pengguna dapat dengan mudah memonitoring kondisi suhu, kelembaban, dan kandungan gas metana yang ada pada kompos saat proses pengomposan berlangsung. Pada penelitian ini menggunakan sensor DHT22 untuk monitoring suhu dan kelembaban, sensor MQ4 untuk monitoring kadar gas metana dan Wemos D1 R1 sebagai pusat pengolahan data dan komunikasi antara sensor dan aplikasi blynk. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan selisih antara pembacaan sensor dht22 dengan alat kalibrasi untuk suhu sebesar 1.2℃ dengan error 3.6% dan untuk kelembaban sebesar 0.1% dengan error sebesar 1%. Sedangkan untuk kadar gas metana pada hari pertama sebesar 324 ppm dan berangsur turun sampai hari ke-10 yaitu sebesar 227 ppm. Dapat disimpulkan bahwa sistem monitoring bekerja dengan baik serta suhu dan kelembaban sesuai dengan standar, yaitu 35℃ - 45℃ untuk suhu dan 40% - 60% untuk kelembaban.   Kata kunci — Pupuk Kompos, Suhu, Kelembaban, Gas Metana, IoT.
Published
2020-10-19
Section
Articles